Cerita Misteri Pesan Ibu Yang Rindu Anaknya
Cerita Misteri Pesan Ibu Yang Rindu Anaknya
Aku tinggal di suatu perumahan perusahan swasta di Jakarta Selatan. Karena aku kerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Utara, maka mau nggak mau aku harus bangun sangat pagi sekitar jam 4.00 setiap paginya kalau nggak mau kena macet dan terlambat kekantor.
Hampir setiap pagi aku membiasakan untuk berolah raga sekitar 30 menit dengan lari-lari sekitar rumahku mengelilingi taman yang ada didepan rumahku. Setiap hari Rabu dan Jum’at aku pasti bertemu dengan tetanggaku yang tinggal di ujung perumahan yaitu seorang ibu tua namanya ibu Ijah yang juga salah satu ibu dari teman di sekitar rumahku
Ibu Ijah merupakan seorang janda dengan 1 anak laki-laki bernama Togar. Togar adalah teman ku dari mulai TK sampai kuliah, sehingga kami sudah seperti saudara. Tapi pada waktu kuliah Togar kawin dengan seorang Janda anak 1 yang kemudian pindah ke Kota Bogor karena selalu berselisih paham dengan ibu Togar.
Semenjak pergi dari rumah Ibu Ijah, Togar tidak pernah datang lagi bahkan tidak memberikan alamat barunya ke Ibunya, sepertinya Togar sangat dipengaruhi oleh istrinya yang 3 tahun lebih tua darinya. Sampai-sampai pada waktu ayahnya meninggal dia hanya datang sebentar lalu pergi dengan istrinya tanpa ikut kekuburan untuk memakamkan ayahnya. Sedangkan Togar hanya memberikan alamat ke aku karena aku adalah teman dekatnya.
Pada suatu hari aku dinas ke Surabaya selama 2 minggu untuk mengaudit salah satu cabang perusahaanku. Sekembalinya aku di Jakarta pada malam hari sekitar jam 10.30 malam , karena anak dan istriku sudah pada tidur maka aku langsung mandi dan langsung tidur.
Dan seperti biasanya alarm jam ku berbunyi jam 4 subuh dan aku langsung bangun untuk siap-siap lari pagi agar badanku tetap segar. Seperti biasa pada hari Jum’at aku bertemu dengan ibu Ijah tetanggaku, lalu kami ngobrol, tapi sekali ini ibu Ijah tidak banyak ngomong seperti biasanya.
Sia hanya mengatakan beberapa patah kata yaitu, “Aku sangat k angen dengan anakku Togar, dan jaga keluargamu baik-baik, karena mereka adalah anugerah Tuhan,” kataya. Kemudian dia tanpa banyak berkata-kata berbalik arah untuk pulang kerumahnya.
Aku agak bingung dengan maksud pembicaraanya tapi aku nggak ambil pusing untuk berolah-raga lalu pulang untuk mandi dan berangkat kerja.Pada hari Sabtu aku bangun siang karena hari liburan kantor, lalu aku bersama istriku dan seorang anakku jam 6.30 jalan pagi sambil mencari sarapan di ujung gerbang kompleks kami. Tetapi sesampai aku di depan rumah ibu Ijah tetanggaku yang ada bendera kuning, aku agak kaget siapa gerangan yang meninggal.
Setelah aku tanyakan kepada istriku yang telah melayat kesana, ternyata yang meninggal adalah ibu Ijah pada hari rabu malam dan Togar tidak datang sampai jenasah di kuburkan. Lalu aku pikir pantasan aja aku nggak tau karena aku masih ada di Surabaya, tetapi lama-lama aku mulai merinding karena aku ingat pada waktu Jum’at pagi aku masih bertemu dengan ibu Ijah dan sempat ngobrol walau hanya sedikit.
Lalu aku membatalkan niat untuk mencari sarapan pagi dan langsung pulang, dan naik mobil ke Bogor rumah Togar. Sesampainya di sana aku bertemu Togar sedang baca Koran di serambi rumahnya sambil minum kopi. Lalu dengan terengah-egah aku beritahukan kalau ibunya telah meninggal hari Rabu malam, tapi apa yang kudapati Togar hanya berkata pendek, “Sudah tahu,” lalu meneruskan membaca Koran.
Darahku menjadi naik melihat itu, lalu kudekati Togar dan kutampar dia 2 kali sambil setengah bereriak, “Togar yang meninggal ini ibu kamu, orang yang melahirkan kamu,” lalu togar seperti patung sebentar menatapku lalu terduduk sambil menangis meraung-raung memangil ibunya, lalu tanpa banyak omong ku tarik dia ke mobilku dan kubawa ke Jakarta terus ke makam Ibunya.
Ddi makam Togar menangis sejadi-jadinya hampir 2 jam dan hal itu aku biarkan saja untuk pelajaran buat dia.Setelah peristiwa tersebut ku jarang bertemu Togar, karena dia sudah dewasa dan bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Namun 4 bulan kemudian aku mendapat telpon dari Togar karena dia mau menikah lagi dengan salah satu teman kantornya dan dia minta tolong agar aku menjadi walinya.Tentu saja aku sanggupi karena hal ini memang yang aku harapkan.
Dan anehnya pada malam dari setelah pernikahan Togar aku bermimpi bertemu dengan Ibu Ijah dia hanya tersenyum kepadaku dan lalu aku terbangun, mudah-mudahan perkawinan Togar ini juga yang diharapkan Ibu Ijah.
Apa komentarmu dengan postinganCerita Misteri Pesan Ibu Yang Rindu Anaknya
diatas ?Dibawah Ini Serem2 Yg Lain :

ceritanya sumpah dapet semuanya…..sedihnya…seremnya……bahagainya ada….menurut gw ceritanya bisa jadi contoh agar kita jangan menyianyikan ortu kita di dunia
kasihan dengan orangtua nya,,,, sampai jenazah di kuburkan,, anak tidak datang…
ceritanya bagus bgtz…….!!!! pelajaran buat anak yg ngelupain orang tuanya setelah menikah…..ini pelajaran yg bagus……gw ska…….sbsnernya c kurang serem…..tpi bgus…..& mendidik…..gw ska bgtz….